Pengembangan Multimedia Pembelajaran untuk Menstimulasi Kognitif Peserta didik

Abad 21 merupakan era perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat, banyak inovasi-inovasi yang diciptakan guna mempermudah kehidupan manusia terutama dalam bidang pendidikan. Pendidikan abad ini harus berkembang mengikuti zaman, banyak inovasi pada bidang pendidikan yang dapat diaplikasikan untuk mempermudah penyampaian informasi supaya mudah dicerna oleh peserta didik. Multimedia dapat menjadi alternatif pembelajaran untuk digunakan, multimedia dapat memperjelas materi-materi yang bersifat abstrak menjadi penjelasan yang konkret.

Multimedia meruapakan suatu gabungan antara gambar, animasi, grafik, teks, audio dan video serta cara penyampaian interaktif yang dapat membuat suatu pengalaman belajar bagi siswa seperti dalam kehidupan nyata disekitarnya (Bardi & Jailani: 2015). Dalam konteks ini multimedia dapat dianggap sebagai kombinasi sebuah teks, grafik, suara, animasi dan video yang disajikan dalam bentuk perangkat komputer, apabila user dapat mengkases apa yang disajikan oleh perangkat tersebut maka, disebut dengan multimedia interaktif (Babiker 2015). Selain itu, secara khusus multimedia mengacu pada penggunaan komputer untuk membuat dan mengintegrasikan teks, grafik audio, animasi berkegrak dan video dengan menggunakan perangkat yang memungkinkan pengguna untuk berinteraksi dan berkomunikasi (Marsono, Mingchan Wu 2016). Dilihat dari berbagai definisi multimedia dapat ditarik kesimpulan bahwa multmedia merupakan kumpulan elemen berupak grafik, gambar, teks, animasi, suara dan video yang dapat diakses dalam sebuah perangkat komputer dan pengguna dapat berinteraksi dengan multimedia tersebut.

Teori kognitif lebih menekankan proses pembelajaran dibandingkan hasil yang dicapai, selain itu juga menekankan bahwa bagian-bagian dari situasi saling terhubung dengan seluruh konteks situasi tersebut. Teori ini Berpandangan bahwa belajar merupakan proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan aspek kejiwaan lainnya (Purwosiri & Gafur : 2016). Perkembangan kognitif adalah suatu proses berfikir berupa kemampuan untuk menghubungkan, menilai dan mempertimbangkan sesuatu (Galih & Ali : 2017). Beban kognitif berpedoman kepada pemrosesan informasi dalam memori jangka pendek terbatas selama proses pembelajaran. menrut Emre & Mahinur (2016) mengatakan tiga teori yang telah membentuk teori kognitif pembelajaran multimedia yaitu:

  1. Working memory model, memori kerja yang bertentangan dengan memori jangka pendek memiliki 3 komponen. Dikendalikan dengan mekanisme control perhatian yang disebut central executive. Di bawah pusat control, lingkaran fonologis dan sketsa visualspatial bekerja sebagai sub mekanisme yang mengatur aktivitas dalam memori
  2. Cognitive load theory, beban kognitif yang mengacu pada struktur multidimensi yang menunjukan beban kognitif seorang pelajar dalam memproses sebuah tugas. Dengan demikian lingkungan belajar harus di desain secara hati-hati agar dapat menyalurkan muatan kognitif secara effsien.
  3. Dual coding theory, untuk teori dual coding didasarkan pada eksperimen tertentu yang dimana elemen-elemen seperti bahasa dan deskripsi yang bervariasi tergantung pada pengalaman dari individu itu sendiri, pentinganya kemampuan spesial sangan ditekankan pada teori ini.

Adapun menurut Tze Wei Liew & Su-Mae Tan (2016) mengungkapkan tiga aspek kognitif dan metakognitif yang penting untuk di dalami yakni:

  1. Memori kerja, suasana hati yang negatif membuat dampak buruk bagi kinerja kognitif dengan banyak terpakainya sumber memori kerja. Namun pikiran positif pun akan berdampak buruk bagi kinerja,
  2. Motivasi, suasana hati yang positif menentukan individu untuk memperoleh penilaian yang baik mengenai rangsangan belajar, yang menghasilkan rangsangan motivasi. Adapun dalam konteks lingkungan pembelajaran berbasis multimedia, mood yang positif dapat meningkatkan motivasi intrinsik. Pengaruh yang negatif memungkinkan untuk memberikan rangsangan kepada pebelajar bahwa kemajuan mereka saat ini berada pada level bawah, sehingga dapat mendorong mereka untuk meningkatkan motivasi yang lebih tinggi untuk mencapai tujuan.
  3. Gaya pemrosesan, dalam effek ini peserta didik yang memiliki mood positif cenderung menggunakan pemrosesan yang kurang mudah dan heuristik. Disamping itu mood yang negatif membuat gaya berpikir yang lebih sistematis, analitis dan rumit. Oleh karena itu mood yang negatif dapat bermanfaat untuk mempelajari perekrutan pemikiran yang lebih mudah.

Pengembangan multimedia tentu butuh desain yang menarik bagi user yang menggunakan, hal ini akan berdampak pada peningkatan struktur kognitif user. Adapun prinsip multimedia yang dikembangkan oleh Sanghoon park (2015)  yakni:

  1. Multimedia, proses penyajian bahan ajar dengan gambar dan kata-kata lebih baik dari pada penyajian materi hanya dengan kata-kata saja. Selain itu, perlu diperhatikan dalam penyajian gambar dan teks tersebut, apakah keduanya saling mendukung atau tidak.
  2. Personal, peserta didik akan mempelajari lebih dalam suatu materi ketika gaya bahasan tidak formal atau menggunakan bahasa sesuai dengan sasaran multimedia tersebut.
  3. Suara, dalam konteks ini peserta didik akan dapat belajar lebih dalam dengan menghadirkan suara manusia daripada suara mesin komputer.
  4. Perwujudan, dalam konteks ini peserta didik akan dapat belajar lebih mendalam ketika dihadikannya agen pedagogis di dalam layar dan menampilkan ekspresi tubuh, kontak mata. Agen dilayar dapat dirancang dalam gambar statis yang tidak menunjukan gerakan atau dengan menunjukan gerakan ekspresi wajah, gerak tubuh dan gerakan.

Adapun menurut Rudolph (2017) menuturkan duabelas (12) prinsip dalam mengembangkan multimedia pembelajaran, yaitu:

  1. Multimedia, penggunaan kata-kata dan gambar lebih efektif untuk pembelajaran dari pada hanya menggunakan kata saja.
  2. Spatial Contiguity, penyajian materi akan lebih baik apabila kata-kata dan gambar di tampilkan dalam satu sajian.
  3. Temporal Contiguity, peserta didik dapat merespon secara baik apabila kata dan gambar disajikan secara terus menerus di bandingkan disajikan satu demi satu.
  4. Coherence, peserta didik akan lebih fokus apabila elemen-elemen yang tidak relevan dengan materi ditiadakan di dalam multimedia tersebut.
  5. Modality, penggunaan grafik dan narasi lebih efektif dibandingkan hanya menyajikan gambar dan teks di dalam multimedia tersebut.
  6. Redundancy, penggunaan grafik, narasi dan teks seharusnya tidak diimplementasikan semua pada slide-slide multimedia, harus adanya keseimbangan dalam penyajian supaya tidak bersaing dalam mengalihkan perhatian.
  7. Individual Differences, percakapan gaya formal tidak boleh digunakan, sehingga pendidik harus berbicara sesuai dengan sasaran yang akan menggunakan multimedia tersebut
  8. Signaling, peserta didik dapat mengenali dan mempelajari informasi secara lebih mudah saat panggilan keluar, panah petunjuk dan sorotan digunakan untuk aspek-aspek kunci.
  9. Segmenting, peserta didik akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik apabila saat pelajaran dipecah menjadi potongan-potongan yang mudah dimainkan daripada semua dalam satu karya multimedia.
  10. Pre-Training, multimedia yang dikembangkan akan lebih efektif apabila peserta didik diberikan pelatihan awal mengenai tujuan dan konsep utama yang akan mereka pelajari.
  11. Voice, peserta didik akan lebih terlibat dalam proses pembelajaran apabila suara dalam presentasi adalah suara manusia yang dipadukan dengan suara yang dihasilkan oleh komputer.
  12. Image, gambar instruksi di layar tidak menghasilkan lebih banyak pembelajaran yang bermakna dari pada gambar itu tidak ditampilkan

Menurut Niamh (2014) menetapkan prinsip multimedia pembelajaran dalam 3 bagian dan di dalamnya terdabat sub-subnya. Adapun hal tersebut ialah:

Pengurangan yang bersifat insidental

  1. Coherence, peniadaan materi asing akan berdampak positif dalam memproses sebuah pembelajaran, dikarenakan berkurangnya beban yang masuk kedalam otak
  2. Redundancy, mengacu kepada borosnya dalam memproses sebuah materi akibat dari kelebihan beban dalam memproses teks dan gambar karena disajikan dalam semua slide.
  3. Signalling, mengacu dalam menarik perhatian peserta didik ke sajian materi yang sesuai instruksi, sehingga dapat mengurangi beban yang insidental.
  4. Spatial Contiguity, pengugnaan gambar dan teks yang sesuai harus ditempatkan dalam satu tampilan, sehingga peserta didik dapat dengan mudah memahaminya.
  5. Temporal Contiguity, hubungan antara teks dan gambar terjadi lebih effisien jika representasi muncul dalam memori kerja secara simultan dan bukan secara berturut-turut.

Pengolahan esensial

  1. Segmenting, dalam konteks ini peserta didik dapat memproses informasi dalam ukuran-ukuran kecil, sehingga tidak membebani kognitif peserta didik.
  2. Pre-Training, menentukan bahawa belajar lebih baik dari pada presentasi multimedia ketika peserta didik telah secara kognitif memproses beberapa komponen.
  3. Modality, menggambarkan bagaimana peserta didik memahami penjelasan multimedia dengan lebih baik saat kata disajikan sebagai narasi audio dan bukan teks.

Proses generatif dalam multimedia pembelajaran

  1. Multimedia, pembelajaran akan terlihat menarik apabila informasi disajikan dengan gambar dan teks dibadingkan hanya dengan teks saja.
  2. Personalisation, dalam konteks ini pembelajaran lebih terdengan menarik apabila penyajian suara tidak secara formal atau dilihat dari sasaran peserta didik.

Dari berbagai pemaparan prinsip-prinsip yang harus ada dalam mengembangkan multimedia untuk menstimulus kognitif peserta didik yakni adanya peran gambar, teks, video, animasi, audio, grafik yang disajikan secara relevan dengan materi yang disajikan untuk memperkuat penjelasan berupa deskripsi, selain itu dalam penyampaiannya digunakan gaya bahasa yang non-formal sesuai dengan sasaran peserta didik dalam menggunakan multimedia yang dikembangkan. Selain itu adanya pelatihan dalam menggunakan multimedia akan berdampak positif dalam proses pembelajaran dengan menggunakan multimedia kedepannya hal ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dalam penggunaan multimedia.

Referensi :

Babiker, Mohd. Elmagzoub. A (2015). For Effective Use of Multimedia in Education, Teachers Must Develop their Own Educational Multimedia Applications. The Turkish Online Journal of Educational Technology. vol 14 issue 4 : 62-68

Bardi & Jailani (2015). Pengembangan Multimedia Berbasis Komputer untuk Pembelajaran Matematika bagi Siswa SMA. Jurnal Inovasi Teknologi Pendidikan. 2 (1) : 49-63

Liew, Tze Wei & Su-Mae Tan (2016). The Effect of Positive and Negative Mood on Cognitive and Motivation in Multimedia Learning Environment. Educational Technology & Society. 19 (2) : 104-115

Marsono & Mingchang Wu (2016). Designing A Digital Multimedia Interactive Book for Industrial Metrology Measurement Learning. MECS. 5 : 39-46

Niamh O’Mahony (2014). Cognitive Learning and Motivation of First Year Secondary School Student Using an Interactive and Multimedia-enhanced e-Book made with iBooks Author. Irish Journal of Academic Practice. 3 (1)

Pandansari, Purwosiwi & Abud Gafur (2016). Pengembangan Multimedia Interaktif untuk Pembelajaran Desain Busana di SMK. Jurnal Inovasi Teknologi Pendidikan. 3 (2) : 237-248

Park, Sanghoon (2015). The Effects of Social Cue Principles  on Cognitive Load, Situational Interest, Motivation, and Achievement  in Pedagogical Agent Multimedia Learning. Educational Technology & Society. 18 (4) : 211-229

Rudolph, Michelle (2017). Cognitive Theory of Multimedia Learning. Journal of Online Higher Education. 1 (2)

Widyatmojo, Galih & Ali Muhtadi (2017). Pengembangan Multimedia Pembelajaran Interaktif Berbentuk Game untuk Menstimulasi Aspek Kognitif dan Bahasa. Jurnal Inovasi Teknologi Pendidikan. 4 (1) : 38-49

6 comments on “Pengembangan Multimedia Pembelajaran untuk Menstimulasi Kognitif Peserta didik

  1. Jesus Mcmurrin

    Woah! I’m really digging the template/theme of this blog. It’s simple, yet effective. A lot of times it’s hard to get that “perfect balance” between superb usability and visual appeal. I must say that you’ve done a very good job with this. In addition, the blog loads very fast for me on Firefox. Exceptional Blog!

    Reply
  2. Abigail Vanliere

    We’re a group of volunteers and starting a brand new scheme in our community.Your web site provided us with valuable information to work on. You’ve done a formidable task and our whole neighborhood will likelybe thankful to you.

    Reply
  3. Cristopher Senti

    I have been absent for some time, but now I remember why I used to love this website. Thank you, I¡¦ll try and check back more frequently. How frequently you update your website?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *