Trends Massive Online Open Courses (MOOCs) di Era Disrupsi : Kajian Literatur

Pendahuluan

Ruang dan waktu sudah tidak lagi menjadi pembatas di dalam abad 21, hal ini akibat dari terjadinya peningkatan perkembangan yang sedang dialami oleh industry teknologi informasi dan komunikasi. Peran teknologi tidak lepas dari peran manusia yang terus bereksperimen untuk memenuhi kebutuhan manusia tersebut supaya lebih efektif dan effisien. Selain itu, perkembangan teknologi menjadi pergeseran dari kehidupan bermasyarakat, diawali oleh kemudahan berkomunikasi antar manusia dengan hadirnya email yang dapat dengan cepat mengirimkan pesan ke pulau-pulau hingga benua. Pendidikan menjadi salah satu pihak yang diuntungkan dalam perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Pendidikan merupakan proses untuk membina peserta didik untuk menjadi manusia yang sesungguhnya. Abad 21 merupakan abad dimana pendidik bukan lagi satu-satunya sumber ilmu yang harus diterima oleh peserta didik. Kedudukan pendidik sama halnya dengan kedudukan media pembelajaran yakni hanya sebagai fasilitator. Akibat dari berkembangnya teknologi computer dan internet terlebih lagi saat ini perkembangan smartphone sangat gencar digalakan, menjadikan peserta didik bebas memilih sumber informasi yang ingin diketahuinya, hal ini diperkuat dengan pendapat Eric Hasby dalam Rusman (2012) bahwa dunia Pendidikan sudah memasuki perubahannya yang kelima. Perubahan yang pertama ketika orang tua menyerahkan proses pembelajaran putra-putrinya kepada seorang pendidik yang telah mendapat amanat dari sekolah, perubahan yang kedua yakni ditemukan dan dimanfaatkannya alat tulis untuk kebutuhuan proses belajar mengajar, perubahan yang ketiga ditemukannya mesin cetak dan dimanfaatkannya guna mencetak bahan ajar seperti buku pengetahuan untuk kebutuhan pembelajaran, perubahan yang keempat ditemukannya dan berkembangnya alat elektronik untuk memfasilitasi pembelajaran seperti radio dan televisi yang dimanfaatkan sebagai variasi dalam proses belajar mengajar, yang terakhir adalah perubahan yang kelima, yakni ditemukan dan dikembangkannya perangkat computer dan internet guna mempercepat sebuah pertukaran informasi dalam pembelajaran seperti penggunaan pembelajaran berbasis online learning.

Dalam perkembangannya di dunia pendidikan, masih jarang pemanfaatan online learning dalam proses pembelajaran, pendidik masih terikat dengan metode klasikal. Adapun tantangan pada zaman ini adalah peserta didik dituntut untuk lebih berfikir kritis dan dapat menciptakan sebuah penemuan-penemuan terbaru, hal ini di dukung dengan kurikulum saat ini yang menempatkan peserta didik di semua jenjang sudah dalam tahap creating.

Massive Open Online Course hadir sebagai pemcahan masalah yang dihadapi oleh manusia abad 21 ini. Massive Open Online Course merupakan sebuah perangkat pembelajaran berbasis daring / online yang dapat diakses melalui jaringan internet secara geratis, sehingga masyarakat saat ini dapat menikmati layanan pembelajaran tidak terbatas lagi oleh ruang dan waktu sesuka hati mereka. Selain itu, Massive open online course merupakan sarana pembelajaran yang tidak terikat pada suatu wilayah tertentu. Dalam penggunaanya user dapat mengikuti pembelajaran di negara-negara lain yang menyediakan layanan MOOC tersebut. Dengan kelebihannya tersebut massive open online course diharapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memperoleh informasi pembelajaran dari negara-negara lain, sehingga masyarakat memiliki daya saing yang tinggi dengan negara-negara lain.

Kajian Pustaka

E-Learning

Sebelum membahas mengenai Massive Open Online Courses (MOOCs), Haruslah kita membahas tentang E-Learning, karena MOOC merupakan bagian dari system E-Learning. E-learning dibuat agar pembelajaran lebih terbuka dengan berbagai cara seperti merumuskan, mengorganisir, dan menciptakan pengalaman belajar yang lebih bebas, pembelajaran elektronik juga bertujuan keberhasilan pembelajaran, dimana di dalamnya terdiri dari kombinasi elemen – elemen antara informasi, interaksi dan komunikasi Pendidikan (Randy Irawan & Herman Dwi Surjono, 2018). E-learning sendiri memiliki beberapa manfaat seperti yang dijelaskan Rosenberg (2001, pp. 30–31) diantaranya informasi dapat disampaikan secara utuh atau disesuaikan dengan kebutuhan, konten dapat diupdate setiap waktu sehingga dapat digunakan dalam waktu yang relatif lama, pembelajaran terjadi secara fleksibel “just in time – any time”, bersifat universality dan scalability, serta builds community. (Dian Wahyuningsih & Sungkono, 2017). Fungsi e-learning dapat sebagai pelengkap atau tambahan, dan pada kondisi tertentu bahkan dapat menjadi alternatif lain dari pembelajaran konvensional. Pe-serta didik yang mengikuti kegiatan pem-belajaran melalui program e-learning memi-liki pengakuan yang sama dengan peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran secara konvensional (Ariyanto S. Helianak, Herman Dwi Surjono, 20014). Dari pemaparan pendapat di atas bahwasannya e-learning bukan hanya sekedar system biasa, tetapi juga dapat menjadi alat yang menghilangkan batasan ruang dan waktu dalam sebuah pembelajaran.

Massive Open Online Course (MOOCs)

MOOCs dapat diterjemahkan sebagai suatu desain Pendidikan berbasis online yang memiliki akses terbuka dan tidak berbayar bagi siapapun. Menurut McDonald & Zlomek (2014) kursus dari MOOC sendiri memiliki beberapa fitur umum, yakni akses terbuka untuk pengguna internet, tidak berbayar dalam mengkasesnya, memiliki forum yang interaktif, dan memiliki kesempatan untuk menerima sertifikat. Adapun menurut Olga Pilli (2016) gagasan terbentuknya sebuah system MOOC adalah bahwasannya “Informasi ada di mana-mana”, yang berakibat memperluasnya akses Pendidikan. MOOC merupakan sebuah system kursus yang mendukung layanan terbuka bagi pengguna internet, terdistribusi, partisipatif dan seumur hidup. Mengingat penelitian peer-review terbatas pada MOOCs, berguna untuk membuat koneksi ke literatur yang ada terkait dengan pengajaran dan pembelajaran online. Namun, corpus terkait dengan kursus online sangat luas, dan cakupan komprehensif akan melampaui ruang lingkup upaya ini. Oleh karena itu, perspektif filosofis yang memengaruhi desain dan fasilitasi kursus online kontemporer menyediakan kerangka kerja pedagogis dan konteks untuk diskusi penelitian MOOC. Pandangan dunia dan asumsi yang mendasarinya secara eksplisit atau implisit memandu berbagai model desain MOOC (Jolie Kennedy, 2014).

MOOC sendiri memiliki kontribusi yang besar bagi pemerataan Pendidikan di seluruh wilayah. Selain itu, MOOC juga memiliki potensi dalam menciptakan akses pembelajaran seumur hidup (Seta, Kukulska Hulme & Arrigo, 2014). Zheng, Rosson, Shih, dan Carroll (2015) melakukan wawancara dengan peserta didik yang telah merasakan pembelajaran dengan MOOC dan mengidentifikasi empat kategori motivasi pelajar MOOC, yakni, dapat memenuhi kebutuhan saat ini, dapat mempersiapkan masa depan, dapat memuaskan rasa ingin tahu, dan dapat terhubung dengan orang-orang. Dari pendapat ahli di atas, bahwasannya MOOC merupakan sebuah inovasi yang dapat mempersempit kesenjangan Pendidikan di dunia. Saat ini MOOC dapat memuaskan pembelajaran anak-anak generasi milenia dalam memperoleh ilmu pengetahuan tanpa adanya kendala ruang dan waktu bahkan hingga tidak adanya biaya besar yang dikeluarkan oleh peserta didik dalam memperoleh pengetahuan.

Kursus online terbuka besar pertama yang diakui sebagai MOOC disusun oleh University of Manitoba pada tahun 2008. Minat masyarakat luas terhadap MOOC diikuti kemudian pada tahun 2011, dengan kursus online terbuka dalam kecerdasan buatan oleh Stanford University dan Massachusetts Institute of Technology (MIT). Kursus ini menarik lebih dari 160.000 siswa dari lebih dari 190 negara. Pada 2015 Coursera adalah penyedia platform terbesar, dengan sepertiga dari semua kursus MOOC ditawarkan. MiriadaX menjadi penyedia MOOC non-Amerika Serikat pertama yang melampaui 1 juta pengguna terdaftar, memasuki pasar besar berbahasa Spanyol di seluruh dunia. Tiga bidang studi teratas pada tahun 2013 dan 2014 adalah dalam Humaniora, Ilmu dan Pemrograman Komputer, dan Bisnis dan Manajemen2. Pada tahun 2014, jumlah universitas yang menawarkan MOOC berlipat ganda menjadi 400 universitas, sehingga jumlah program kumulatif menjadi dua kali lipat menjadi 2.403 (Laura Czerniewicz, Andrew Deacon, Mary-Anne Fife, Janet Small and Sukaina Walji, 2015). Data di atas menunjukkan bahwa betapa besarnya antusias dari masyarakat terhadap hadirnya pembelajaran MOOCs sebagai trend belajar masa depan.

Pembahasan

Pemanfaatan pembelajaran berbasis system e-learning merupakan sebauh trend yang terus mengalami peningkatan sejalan dengan perkembangan teknologi untuk memudahkan manusia beraktivitas. Pemaparan ahli dan data yang ditampilkan pada kajian pustaka, merupakan sebuah gambaran dari perubahan gaya atau metode belajar di dunia. Metode belajar tradisional seperti sekolah yang harus mengeluarkan biaya, tenaga dan waktu akan tergeser oleh Pendidikan berbasis system atau e-learning karena di dalam konsep e-learning tidak ada lagi kesenjangan ruang dan waktu serta pemberian ilmu terhadap peserta belajar. Terlebih lagi biaya yang di keluarkan lebih hemat apabila dibandingkan dengan sekolah konvensional. Hadirnya pembelajaran berbasis massive open online courses (MOOCs) menjadi trend masyarakat modern saat ini.

MOOCs yang sudah menjalar ke seluruh belahan dunia menjadi magnet bagi anak mudah milenial saat ini. MOOCs sendiri saat ini sudah memiliki kontribusi yang besar bagi pemerataan Pendidikan di dunia. Di Indonesia sendiri MOOCs sudah ada seperti Indonesia X yang dapat di akses secara gratis dan tidak adanya batasan ruang dan waktu. Pengguna hanya perlu registrasi dan dapat langsung mengakses pembelajaran yang ada di dalam system tersebut.

Kesimpulan

Dari berbagai pembahasan kajian pustaka, dapat di ambil kesimpulan bahwa

  • MOOCs dapat menjadi alternative dalam pemerataan Pendidikan saat ini.
  • MOOCs dapat menjadi pertimbangan bahan ajar bagi pendidik.
  • MOOCs dapat memberikan dampak positive bagi anak muda modern.
  • MOOCs dapat memberikan motivasi dalam pembelajaran yang bersifat bebas.

DAFTAR PUSTAKA

Pilli, Olga (2016). A Taxonomy of Massive Open Online Courses. Contemporary Educational Technology. Vol 7 (3), 223 – 240.

Irawan, Randy & Surjono, Herman Dwi. (2018). Pengembangan E-Learning Berbasis Moodle dalam Peningkatan Pemahaman Lagu Pada Pembelajaran Bahasa Inggris. JITP. Vol 5 (1), 1-11.

Wahyuningsih, Dian & Sungkono. (2017). Peningkatan Interaktivitas Pembelajaran Melalui Penggunaan Komunikasi Asynchronous di Universitas Negeri Yogyakarta. JITP. Vol 4 (2), 227-237.

Milligan, Colin & Littlejohn, Allison. (2017). Why Study on a MOOC ? The Motives of Students and Professionals. International Review of Reaserch in Open and Distributed Learning. Vol 18 (2).92 – 102.

McDonald, M & Zlomek, E. (2014). What’s a MOOC? Quicktake. Dilihat pada tanggal 11 September 2018 dari http://www.bloombergview.com/quicktake/whats-a-mooc

Zheng, S., Rosson, M. B., Shih, P. C., & Carroll, J. M. (2015). Understanding student motivation, behaviors and perceptions in MOOCs. In Proceedings of the 18th ACM Conference on Computer Supported Cooperative Work & Social Computing (pp. 1882-1895). ACM.

Kennedy, J. (2014). Characteristics of Massive Open Online Courses (MOOCs) : A Research Review, 2009 – 2012. Journal of Interactive Online Learning. Vol. 13 (1). 1 – 16.

Helianak, Ariyanto S. &  Surjono, Herman Dwi (2014). Pengembangan E-Learning Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di SMA Negeri 3 Kupang. JITP. Vol. 1 (1). 1 – 14.

Czerniewicz, L; Deacon, A; Fife, M; Small, J; Walji, S (2015). CILT Position Paper: MOOCs. CILT, University of Cape Town.

Kalman, Y. M. (2014). A race to the bottom: MOOCs and higher education business models. Open Learning, 29(1), 5-14.

Hoy, M. B. (2014). MOOCs 101: An Introduction to Massive Open Online Courses. Medical Reference Services Quarterly, 33(1), 85-91.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *